• Rachel Amanda

Memilih satu sama lain.

Updated: Nov 18, 2018

Dua puluh lima tahun yang lalu, orangtua saya memutuskan untuk hidup bersama, (berharap) selamanya.


..


Sejak kecil hingga saat ini, persepsi saya mengenai pernikahan cukup berubah-ubah. Saat berada di bangku TK hingga SD, pernikahan bagi saya adalah suatu pesta besar, lengkap dengan gaun putih yang bagian bawah-nya harus mengembang. Pernikahan menjadi suatu “skenario” yang wajib dibawakan saat saya bermain dengan teman-teman sebaya. Daun-daun yang jatuh di depan rumah sering kami gunakan sebagai bunga yang ditebarkan di atas pengantin. Gorden putih di jendela rumah saya kami gunakan sebagai “bawahan” gaun, yang artinya kami tidak bisa berjarak dari jendela saat mengucapkan janji suci. Terkadang bapak saya secara sukarela mau berperan sebagai pengantin pria apabila teman-teman saya sedang tidak ada di rumah. Intinya, pernikahan hanya sebatas perayaan indah yang sering saya lihat di akhir cerita film animasi putri. Saya juga hanya terobsesi pada gaun pengantinnya. Bahkan dulu, saya sempat kesal dan menangis kencang saat melihat album foto pernikahan orangtua saya. Alasannya adalah karena saya tidak diundang, padahal saya ingin memegang gaun ibu saya. Waduh.



Saat memasuki jenjang pendidikan SMP hingga SMA, konsep pernikahan di kepala saya berkembang menjadi suatu ikatan yang penuh cinta. Seseorang memutuskan untuk menikah karena didasari oleh cinta yang kuat dan kecocokan yang mutlak. Hal ini yang kemungkinan membuat saya (dan mungkin teman-teman seusia saya saat itu) melihat calon pasangan haruslah seseorang yang memenuhi kriteria ideal. Maklum saja apabila pada usia tersebut, saya dengan mudahnya “ilfeel” dengan seseorang apabila ia memiliki kekurangan yang tidak pernah ada dalam bayangan saya tentang dirinya. Pada masa ini, saya juga sempat mempertanyakan apakah bapak dan ibu saya “cocok”, melihat perdebatan di antara mereka bukanlah hal yang jarang terjadi di rumah.



Beranjak dewasa, saya mulai bisa melihat dengan jelas perbedaan di antara orangtua saya, yang lucunya tetap memilih untuk menikah 25 tahun silam. Padahal seiring berjalannya pernikahan, ada kemungkinan cinta itu memudar, meskipun bisa juga tumbuh semakin kuat. Bukan hanya itu, sebagai individu mereka juga terus berkembang dan berubah. Dari situlah saya mengerti bahwa orangtua saya memang menikah atas dasar cinta, tetapi ada hal lain yang membuat mereka bertahan. Apakah itu? Entahlah. Mungkin rasa persahabatan. Mungkin kenyamanan. Mungkin ibadah. Mungkin takut akan kesepian. Mungkin hal-hal lain yang tidak saya mengerti. Pada akhirnya yang saya kagumi bukan rasa cinta yang ada pada mereka, tetapi keputusan mereka untuk tetap memilih satu sama lain. Saya melihat keikhlasan mereka berkompromi akan banyak hal. Mulai dari sesuatu yang fundamental sampai hal-hal sepele, terhadap pasangan maupun anak-anaknya. Adaptasi terus dilakukan. Sesuatu yang mungkin tidak pernah terpikir oleh mereka sebelum menikah.



Itulah yang kemudian membuat saya paham bahwa menikah mungkin bukan pilihan semua orang. Ada yang bahagia dengan dirinya sendiri, ada juga yang saling mencintai dengan cara berpisah. Meskipun begitu, saya salut dengan mereka yang pernah mencoba berbagi kehidupan dengan orang yang sebelumnya sangat asing. Tidak semua orang memiliki keberanian itu.



Kalau saya pribadi, hingga saat ini saya masih memiliki keinginan untuk menikah. Saya berharap dengan siapapun saya berakhir, kami bisa berteman seumur hidup dan memilih satu sama lain. Saya juga berharap kelak kami bisa menerima perubahan-perubahan yang terjadi selama pernikahan, dan menjadikannya sebagai kesempatan kami untuk tumbuh bersama. Pernikahan orangtua saya jauh dari ideal, tetapi tidak sedikit yang saya pelajari dari mereka. Bahkan banyak yang diam-diam saya jadikan standar dalam membangun rumah tangga nanti.


..


Dua puluh lima tahun yang lalu, orangtua saya memutuskan untuk hidup bersama, (semoga) selamanya. Kami, anak-anaknya, selalu mendoakan mereka bahagia dengan pilihannya. Begitu pula doa kami untuk orangtua-mu.




1 view0 comments

Recent Posts

See All

Menjadi Aktor

Ketika saya memulai karir akting saya tujuh belas tahun yang lalu, saat itu saya berpikir bahwa menjadi aktor tidak lebih dari seseorang yang pandai "berpura-pura". Peran pertama yang saya dapatkan ad

  • Black Facebook Icon

©2018 by Rachel Amanda